Saat ingin pulang kerumah, teteh akan pulang kemana?

Aku ga sopan memang, memulai obrolan dengan tidak hangat bukannya say hai tanya kabar ini tiba tiba mengajukan pertanyaan yang sensitif.

Seorang teman yang Allah izinkan untuk bertemu dua kali selama 7 tahun pertemanan. Kita sedikit tahu alur hidup yang kita lalui. Bukan tanpa alasan aku menanyakan hal tersebut, aku sedang galau sebenarnya. Juga ingin tahu jawaban tentang Rumah yang selama ini aku tahu aku dan dia sama-sama kehilangan bentuk fisiknya.

Rumah untuk pulang, mungkin akan wajar jika pertanyaan “Rumah untuk pulang” diajukan oleh kami (manusia yang kehilangan sosok ayah, bunda sedari kecil) tapi akan aneh jika diajukan oleh manusia yang utuh keluarganya hingga dia dewasa sekarang ini. Pekan lalu seorang teman mampir ke wasapku “mbak aku ga tahu harus pulang kemana, aku ga punya rumah itu” mbak kamu tahukan apa yang aku maksud?

Iyaaa aku paham maksud dari Rumah itu. Rumah untuk mendapatkan kehangatan, semangat untuk kembali berjuang, atau sekedar menanyakan kabar tanpa alasan.

Terima kasih untuk orang-orang yang menyayagiku setulus hati, membukakan pintu, mempersilahkan aku masuk, menyuguhkanku teh hangat, dan mengizinkanku memulai cerita. Semoga Allah menyayangi kalian tak henti-henti.

Rumah, 28 juli 2019

Iklan

Tergenapkan (04.02)

“Mas besok kalo aku nikah ikut suami jauh dari sampean, jauh dari rumah, sedih enggak?”

Terdiam cukup lama lalu diujung telepon “Yaaa gimana yaa..” ujar mu begitu.

Tergenapkan, Alhamdulillah Allah Yang Maha baik Allah genapkan sampai angka dua puluh dua.

Barakallah beberapa teman mengirimkan pesan singkat lewat WhatsApp, doa-doa baik pun juga untuk kalian.

Hmmm usia yang bukan lagi remaja, beberapa orang mengecap aku sudah dewasa, yaa aku terima dengan hati gembira itu pertanda aku sudah siap sebenarnya berkeluarga(oke kalimat ini maksa😅)

“Tergenapkan,
Bukan lagi siapa, melainkan untuk apa?
Pulang itu pasti,”
Yaahhh snep Instagram ku kemarin begitu, sebuah pengingat diri setiap milad, bukan maksud memperingati tapi itu adalah indikasi seberapa jauh aku bertumbuh dalam pertumbuhan.
Bukan lagi siapa, alhamdulillah sudah aku temui jawabnya aku ini siapa.

Untuk apa? Iyaa aku sedang mengisi jawaban tanya itu dengan aktivitas, peran ku sebagai seorang anak, adik, saudara, teman dan tentu seorang hamba, aku harus bertumbuh dengan lebih baik lagi, masuk dalam masalah lebih banyak lagi, ikut berperan dalam kebaikan-kebaikan, harusnya begitu, iyakan harusnya begitu.

Pulang itu pasti, maksudnya adalah mati. Sebuah kepastian yang akan ditemui, oleh sebab itu sekarang adalah waktu terbaik untuk mempersiapkannya.
Ketika mati akan ada dua tempat kembali surga dan neraka, lalu pintu mana yang akan dipilih?
Tentu surga, oleh karenanya jalannya harus jalan menuju surga.

Tentu, terima kasih untuk mu mas Bas ku tercinta, 12 tahun sudah menjadi Bapak, Mamak dan kakak ❤️

Kalimat pembuka tulisan adalah obrolan dengan mas Bas kemarin, dia rasanya ingin lekas adiknya ini digenapkan😅 yaaa aku amiinkan,
Gak papa kan? Wajar sajakan? Akukan perempuan😅

Jika dengan menikah kebaikan-kebaikan bertambah, kenapa tidak?
Tidak ada yang salah dengan nikah muda 🤣 wkwkkwkwk

“Selamat berjuang nak, peran mu ditunggu, semangattt yaaaaaa”

Bogor, 05 feb 19

Ku tuliskan ini untuk mu

Gerimis turun saat gelap masih pekat, mengizinkan air suci mensucikan bertemu, gerimis dan embun.

Sepagi ini saat malas naik jadi kuadrat tubuh rasanya enggan beranjak untuk bergerak. Jangan tanya “kamu kapan nggak malesnya bek?” Ahahaha aku juga lupa kapan terakhir aku rajin.

Ahh sebenarnya enggan ku tulis ini, tapi ku paksa agar tahun besok di tanggal dan bulan yang sama biar ku ingat ku pernah menuliskan hari ini.

Barakallah nak, berkurangnya jatah kontrak hidup mu di dunia semoga menjadikan mu lebih baik. Dewasalah. Jangan terlalu drama hidup mu, jangan jadi gadis menyek-menyek.

Ingatlah bukan hanya dirimu yang berjuang, sakit-sakitan. Ingat-ingatlah di rumah mu ada doa-doa yang melangitkan nama mu setiap waktu, mengurangi jatah bulanannya untuk mu. “Sehat terus mas, Allah murahkan rezeqi untuk mu”.

Semoga semakin sadarnya dirimu bahwa “Hidup bukan tentang mu saja” membuat kepekaan dalam hati mu.

Banyak semoga yang ku ucapkan, dan semoga lekas tersemogakan. Aamiin

“Tulisan ini untuk mu Bekti”

“Aku adalah Pejuang dalam langkah tak terhenti, demi mewujudkan harap tak bertepi” (mbak gita).

#Do Something For Islam.

*21 tahun 🙂

Bogor, 04 februari 2018

Keripik tempe

Heehe tulisan ini tidak membahas cara pembuatan keripik tempe atau macam2 varian rasa keripik tempe 😀

Rabu minggu lalu jadwal jam 4 sore bertemu dg mbak Warni dan 3 teman-teman seperjuangan, heheehee. Seperti biasa saat kumpul pasti ada cemilan yg di suguhkan, ahahaha dan ini yg aku suka dari bertemunya kita.

Keripik tempe, humm i like it, tempe itu makanan paling nikmat duduk sejajar dg sambel kacang. Ahahahha mencabang lidah ku.

Dan rabu ini 2 bungkus keripik tempe masuk dalam tas ransel ku, rencananya untuk bekal menghemat 1 minggu kedepan, tapi entahlah sepertinya juga sehari dadal.

Ehhh makasih mbak Uci sudah mau membelikannya untuk ku.

Hemat, iya hampir 7 bulan ini tak ada gajihan bulanan, hemat sudah jadi makanan sehari-hari. Bergelut dg lambung yg melilit rasanya sudah biasa, ahahaaha masuk zholim mungkin ini.

Hemat itu ketika sabun mandi cair beralih fungsi jadi shampoo dan sabun cuci muka, humm 😄 jangan bayangkan rasanya. Ahahaha

*Ahh buyar tulisan ini, teman mbak Wiwit main kekost, beringsik -.-

Maafkan tak nyambungnya tulisan dg judul. Heheehee

Rezeqi dari Allah, Allah menciptakan lambung pasti akan ada makanan yg masuk untuknya. Inget-inget itu Bekti 🙂

Bogor, 31 januari 2018

Tiga di kali tiga, di bagi tiga

Hujan, Bogor hampir setiap hari hujan. Sore ini awan awan berkumpul memenuhi undangan tetua mereka untuk berdiskusi kapan kah mereka turun ke bumi.

Hujan sore ini masih sama seperti yang lalu, turun di awali dengan satu persatu lalu ramai berduyun duyun, apakah tetap akan meninggalkan genangan di setiap lubang rasa yang pernah tercipta, dan orang-orang sering memplesetkannya menjadi kenangan bukan genangan ?

Lagi, di kamar ini yang dulu pernah ku tulis, kamar dengan teras setengah meter yang memanjang seperti lorong, kami duduk bersama asyik bercanda, melepar ejek tawa hingga maghrib menyapa,

Iyaa, sudah 2 minggu ini. Kamar 3×3 ku di isi 2 penghuni baru, siapa dia ? Mbak Wiwit dan Seli, teman teman lama ku tapi rasa baru 😄😄

Aku tak paham kenapa seli dan mbak wiwit sering menertawakan hal hal yang ku kira biasa saja, sering aku datar menanggapi mereka, tapi alih alih aku di bully, aku juga ikut membalas dengan seimbang 😂

Tidak aku tidak akan membongkar aib di sini, wkwkkwkwkw

Tiga di kali tiga di bagi tiga, saat malam datang sudah gaduh itu kembali lagi, kami sibuk mengatur tidur dengan posisi ternyaman, karena aku tipe orangnya yang ngalahan yooo uwes hari pertama aku jadi korban dengan tidur di tengah, hari ke dua, ke tiga ogaaahhhhh ndak ada lagi tidur di tengah, —

Tiga kali tiga di bagi tiga,

Saat jam jam bukan jam tidur, kami juga harus berbagi, misal yang satu lagi main hape, yang satu lagi tidur, yang satu mau sholat, sudah mliper satu satu 😂 asyik sih ini

Satu hal yang aku tidak suka, kamar segini dengan oksigen yang di bagi bagi, pasti engap dan mereka sepakat 24 jam non stop baling baling kipas itu bekerja. Nasip ku ? Malang –” aku beberapa hari ini kembung, bibir ku kering, dan kedinginan, dan buruknya aku sepertinya menikmati ini.

Bogor, 22 oktober 2017

Pekat

Haii nak , sebuah sapaan yang sering di gunakan untuk menyapa ku

Dan aku suka, itu sebuah penghargaan menurut ku, sebuah sapaan yang hangat dan ramah

Dua hari yang lalu, sebuah tindakan yang akhirnya membuat ku membisu, merenung, membungkam membuat jrawat tumbuh besar di kening ku, hingga sesak ku fikirkan berulang-ulang, ulang-ulang, ulang kali..

Sedikit mantap sedikit goyah, terus begitu hingga detik aku mulai menulis ini.

Sebuah pilihan yang harus di pilih, sebuah keputusan yang harus di ambil, antara hidup dan mati ku sebut, semakin banyak yang ku mintai pendapat malah semakin banyak pula opsi-opsi yang aku dapat.

Pekat, runyem, mbulet ini menurut ku,

Siapa yang membuat pekat?

Runyem?

Mbulet?

Jawabnya aku sendiri,

Di usia 20 tahun, menurut ku ini masa tersulit untuk mengambil sebuah keputusan antara hidup dan mati. Sebuah perjalanan yang nantinya akan aku lewati, Sebenarnya ini jawaban atas doa-doa yang aku inginkan, seimbang, paket komplit kata ku, tapi apa ?

  • Kau sebut paket komplit tapi masih ragu untuk mengiyakan.. Bohong besar itu, apalagi hingga akhirnya kau pilih mundur sebelum mencoba .. Benar-benar pekat nak ..

Dan semua sudah di putuskan sekarang, sudah. Jika nanti ada yang kecewa, sakit, aku berharap akulah sendiri yang akan sakit tak perlu ada kelinci percobaan, tak perlu ada hati-hati yang ikhlas kecewa.

Dan akan aku catat di blog ku, “Bekti, suatu hari nanti kamu harus menjalankan cita-cita kecilmu, dengan ikhlas, tanpa pamrih, tanpa memandang lagi nilai sebuah mata uang”

Dan satu semoga lekas kau khatam urusan dunia.

Bogor, 17 september 2017

Adha ke dua di kota hujan

Sebenarnya aku juga tak tahu ingin menulis apa, cuma itu saja yang ingin ku tulis sebenarnya, Adha ke dua di kota hujan. Selebihnya aku bingung..

Selepas ashar atmosfir lebaran sudah terasa, toa-toa masjid sudah terdengar pengumuman, yang entah pengumuman apa, tak begitu jelas ku dengar, hanya “bapak-bapak erte 3” sudah hilang lalu terbawa angin. Radio ceramah yang sudah mulai mengumandangkan takbir khas lebaran,

Pilu saat takbir mulai membumbung kelangit-langit, orang-orang ramai keluar bersenda gurau bersama keluarga dan tetangga, anak-anak yang ramai kejar-kejaran, memukul-mukul yang bisa di pukul yang penting bunyi saja saat takbir di kumandangkan, atau satu dua pergi kepasar malam untuk beli bumbu rendang siapa tahu esok dapet bagian daging dari masjid sebrang jalan.

Lamat-lamat selepas sholat maghrib aku juga ikut hanyut dalam suasana ini, yang ku temui dua kali setiap tahun,

Masih ingat rasanya, satu tahun lalu, sesenggukan setelah sholat maghrib, sedih rasanya jauh dari rumah karena tahun lalu kali pertama benar-benar sendiri saat takbir di kumandangkan,

Tidak ada kata “bek kamu nggak keluar rumah sekedar lihat kembang api? Atau main kerumah si mbah bantuin bikin tape ketan”

Ahhhhh itu pilu jika ku ingat, saat menulis ini pun tenggorokan ku ada yang mengganjal, susah di bendung.

Ini kali kedua adha di sini, kota yang jauh dari rumah, kota yang semuanya hampir beda dengan asal ku. Kota yang disebut kota hujan, ahh nyatanya aku tinggal di pinggirannya saja, jadi hujan ya jarang-jarang, kota yang mengantarkan ku untuk bermimpi kembali,

Ini masih sama, adha ke dua di kota hujan, masih sama-sama pilu, atau mungkin akan sama sesenggukannya, Tapi aku rasa tak perlulah menangis sampai tetangga dengar, biar ku simpan saja esok pagi saat di plantaran masjid,

Adha ke dua di kota hujan, aku tak pulang.

Adha ke dua di kota hujan, aku tak makan rendang.

Adha ke dua di kota hujan, Bogor, 9 DzulHijjah 1438 H